Pengantar Bimbingan Pribadi Pada Anak Sekolah

Child

Bimbinagan Kobnseling Buata anak

Bimbingan dan konseling merupakan salah satu bimbingan bidang pelayanan yang perlu di laksanakan di dalam program pendidikan. Kebutuhan pelaksanaan bimbingan dan konseling berlatar belakang beberapa aspek, yaitu aspek psikologi, sosiologi, kultural, pendadogis . Diantara latar belakang Psikologis, dalam proses pendidikan di sekolah siswa-siswa sebagai subjek didik, merupakan pribadi-pribadi yang unik dengan sgala karakteristiknya perkembangan, memiliki kebutuhan dan dinamika dalam interaksinya dengan lingkungan. Sebagai pribadi yang unik terdapat perbedaan individual antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya. Di samping itu siswa sebagai pelajar. Timbulnya masalah-masalah psikologis menuntut adanya upaya pemecahan melalui layanan bimbingan dan konseling. Berikut ini akan diuraikan mengenai beberapa masalah psikologis yang merupakan latar belakang perlunya bimbingan dan konseling di sekolah diantaranya masalah perkembangan individu, masalah perbedaan individu, masalah kebutuhan individu, masalah penyesuaian diri, masalah belajar.

Latar belakang pedagogies. Sesuai dengan tujuan pemerintah .pendidikan diartikan sebagai sesuatu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian yang berlangsung seumur hidup. Sedangkan GBHN adalah “untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, mencintai tanah air.

Agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya serta bersama-sama bertanggung jawab atas membangun bangsa. Untuk menuju tercapainya pribadi yang berkembang secara menyeluruh yang tidak halnya pada intelektual. Akan tetapi meliputi pada semua aspek Perkembangan anak. Secara dinamis masih nampak gejala bahwa anak didik belum mencapai prestasi belajar secara optimal hal ini nampak antara lain gajala : Putus sekolah, tinggal kelas, lambat belajar, berprestasi rendah, kekurangan masyarakat terhadap hasil pendidikan, dan sebagainya. Demikian juga secara sosial ada kecendrungan anak didik belum memiliki kemampuan penyesuaian sosial secara memadai. Sehubungan dengan hal itu, layanan bimbingan dirasakan amat berperan dalam membantu proses dan pencapaian tujuan pendidikan secara paripurna diantaranya pendidikan peran guru .

Dalam proses belajar matematika ada juga suatu kendala baik dari faktor dalam maupun dari faktor luar. Disini saya akan membahas dan menguraikan mengenai cara memberikan bimbingan pada anak yang malas belajar matematika .

1. Karakteristik Sekolah Dasar

Sekolah Dasar adalah jenjang pendidikan yang dapat ditempuh selepas dari taman kanak-kanak atau bahkan dapat di jalani lansung tanpa adanya proses pendidikan sebelumnya. Dan tujuannya adalah seperti yang telah tercantum pada latar belakang masalah maka dapat disimpulkan bahwa tujuan umum pendidikan di tingkat Sekolah Dasar adalah memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk :

  1. Mengembangkan dirinya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota seluruh ummat manusia.
  2. Mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan ketingkat pendidikan menengah.

2. Peserta Didik

Peserta didik ditingkat sekolah dasar berkisar 6 hingga 12 tahun yang sedang mengalami tahap perkembangan anak-anak dan memasuki masa remaja awal. Setelah menyelesaikan pada tingkat ini maka mereka berada pada tahap perkembangan memasuki masa remaja. Tahap perkembangan anak-anak usia SD merupakan dimana mereka mempersiapkan dirinya untuk kelangsungan hidupnya kelak dalam menghadapi tugas perkembangannya.

3. Pengertian Bimbingan dan Konseling.

Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang terprogram dan berkelanjutan. Hal ini mengandung makna bahwa kegiatan bimbingan dan konseling bukanlah kegiatan tanpa rencana dan seadanya, baik menyangkut waktu pelayanan, isi kegiatan, sarana dan prasarana, maupun personil yang terlihat, akan tetapi merupakan kegiatan yang direncanakan secara khusus dengan pertimbangan berbagai kebutuhan dan tuntutan yang ada disekolah dimana kegiatan konseling itu berlangsung.

Menurut Arthur J. Jones yang dikutip Dewa Ketut Sukardi menyebutkan: “Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam menetapkan pilihan dan penyesuaian diri, serta dalam memecahkan masalah. Bimbingan bertujuan membantu penerimaan secara bebas dan mampu bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri”. (1998:8)

Sedangkan pengertian konseling adalah suatu proses untuk mengadakan perubahan pada diri anak. Perubahan itu sendiri ada dasarnya, yaitu menimbulkan suatu yang baru sebelumnya belum ada atau belum berkembang. Jadi, perubahan adalah keadaan yang menyatakan adanya sesuatu yang lain dari keadaan sebelumnya. Mengubah adalah berusaha agar sesuatu menjadi lain dari keadaan semula. Perubahan pada diri klien itu ternyata ada sesuatu yang lain dibanding keadaan terdahulu.

Adapun tujuan pokok konseling adalah membantu murid memperoleh identitas dirinya sebagai landasan pokok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam keseluruhan kehidupan pribadinya. Dengan demikian setelah pelaksanaan penyuluhan berakhir, diharapkan tersuluh (klien/conselee) memperoleh konsep yang memadai mengenai :

-           Dirinya sendiri

-           Orang lain disekitarnya

-           Pendapat orang lain mengenai dirinya

-           Tujuan-tujuan dan harapan-harapan yang mudah dicapai

-           Kepercayaan terhadap dirinya

Sedangkan hubungan Bimbingan dan Konseling adalah merupakan kegiatan yang integral, keduanya tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, perkataan guidance selalu dirangkaikan dengan konseling merupakan salah satu jenis teknik pelayanan bimbingan diantara pelayanan-pelayanan lainnya, dan sering dikatakan sebagai inti dari seluruh pelayanan dalam bimbingan.

Kegiatan bimbingan secara keseluruhan harus mencakup :

-           Bimbingan pribadi

-           Bimbingan social

-           Bimbingan belajar

-           Bimbingan karier

Dalam penelitian ini bimbingan yang akan dispesifikkan adalah jenis layanan lain yang berfungsi sebagai pendukung bimbingan dan konseling yang bersifat bimbingan pribadi dari guru kelas/wali kelas terhadap peserta didik. Layanan ini mencakup Layanan orientasi dan informasi.

4. Bagian Bimbingan dan Konseling

  1. Fungsi bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan pendidikan hampir memiliki definisi yang sama dan hanya dapat dibedakan secara teoritis saja karena pelakuan yang diberikan oleh guru disekolah meliputi beberapa bantuan yaitu:

  1. Menolong anak dalam kesulitan belajar
  2. Berusaha memberikan pelajaran yang sesuai dengan minat dan kecakapan anak-anak
  3. Memberi nasehat kepada anak yang akan berhenti dari sekolah
  4. Memberi petunjuk kepada anak anak yang akan melanjutkan pendidikannya, dan sebagainya.

Semua hal diatas dilakukan oleh guru tersebut dapat juga disebut bimbingan, dengan demikian dapat dikatakan bahwa bimbingan adalah segala usaha yang menyangkut kependidikan yang dilakukan oleh guru. Namun demikian, meskipun bimbingan menyangkut aspek dari kegiatan, hendaknya perlu diperhatikan bahwa pendidikan dan bimbingan berbeda dalam tujuan dan prosesnya. Karena bimbingan bimbingan banyak berhubungan dengan factor-faktor diluar individu, yang berguna bagi individu tersebut usaha pengembangan diri.

  1. Jenis-jenis Bimbingan

Terdapat berbagai macam jenis bimbingan yang dapat diberikan kepada siswa disekolah khususnya siswa sekolah dasar. Dan layanan ini diberikan secara kontak lansung dengan peserta didik diantaranya adalah:

  1. Layanan orientasai : Bimbingan tengan lingkungan baru sekolah yang mereka masuki
  2. Layanana Imformasi : Bimbingan pemberian imformasi tentang pendidikan dan sekolah lanjutan
  3. Layanan penempatan dan penyaluran: Pengaturan tentang kegiatan belajar seperti kelompok dan jurusan.
  4. Layanan Pembelajaran : Membimbing siswa dalam menentukan kebiasaan belajar, materi pelajaran dan kesulitan dalam belajar
  5. Layanan Konseling perorangan : Pemecahan permasalahan pribadi siswa yang dilakukan secara tatap muka
  6. Layanan bimbingan kelompok : Bimbingan yang diberilkan tentang pokok bahasan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari yang diberikan secara kelompok
  7. Layanan konseling kelompok : Pembahasan masalah-masalah pribadi yang dibahas secara berkelompok.
  8. Faktor Pendukung Bimbingan dan Konseling

Selain aktivitas diatas, dalam bimbingan dan konseling dapat dilakukan kegiatan lain yang kita anggap sebagai kegiatan pendukung. Adapaun kegiatan pendukung tersebut adalah:

  1. Applikasi instrumentasi bimbingan dan konseling : Menyangkut pengumpulan data tentang peserta didik baik melalui tes atau non-tes.
  2. Penyelenggaraan himpunan data : Kegiatan pengumpulan data atau keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik.
  3. Konfrensi kasus: Membahas permasalahan yang dialami oleh peserta didik yang dilakukan dalam suatu forum yang terbatas dan tertutup
  4. Kunjungan rumah : Kunjungan yang dilakukan dalam rangka penuntasan kasus yang dilakukan guru dan bekerja sama dengan orang tua atau anggota keluarga siswa.
  5. Alih tangan kasus: Pemindahan penangan kasus pada pihak yang lebih ahli dalm penangan permasahan siswa.
  6. Faktor pendukung ini tidak boleh menggangu atau mengurang intensitas dan frequensi pelaksanaan jenis bimbingan yang lebih utama.

1. Prisip-prinsip Bimbingan dan Konseling disekolah.

a.   Prisip yang bekenaan dengan sasaran layanan:

  • Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, agama, dan satus social ekonomi.
  • Bimbingan dan konseling berhubungan dengan pribadi dan tingkah laku yang unik dan dinamik
  • Bimbingan dan konseling memperhatikan sepenuhnya tahap dan berbagai aspek perkembangan individu
  • Bimbingan dan konseling memberikan perhatian utama kepada perbedaan individual yang merupakan orientasi pokok pelayanannya

A. Prinsip Berkenaan Dengan Permasalahan Individu.

Bimbingan dan konseling yang berhubungan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental/fisik individu terhadap penyesuaian dirinya dirumah, disekolah, serta dalam kaitannya dalam kontak social dan pekerjaan dan sebaliknya pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu. Kesenjangan sosial, ekonomi, dan kebudayaan merupakan faktor timbulnya masalah pada diri individu yang kesemuanya menjadi perhatian utma pelayan bimbingan dan konseling. Prisip-prinsip berkenaan Dengan program layanan. Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu membimbing diri sendiri dalam menghadapi permasalahannya. Dalam proses bimbingan dan konseling keputusan yang diambil dan akan dilakukan oleh individu itu sendiri, bukan karena kemauan atau desakan dari pembimbing atau pihak lain. Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.

Kerja sama antara guru pembimbing, guru-guru lain dan orang tua sangat menentukan hasil pelayanan bimbingan. Pengembangan program pelayanan bimbingan dan konseling ditempuh melalui pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran dan azas-azas bimbingan dan konseling di sekolah. Pemenuhan terhadap azas-azas bimbingan dan konseling akan memperlancar pelaksanaan bimbingan dan konseling disekolah, Adapun azas-azas tersebut meliputi:

-           Azas kerahasiaan, pembimbing harus memelihara kerahasiaan data dan keterangan tentang siswa yang menjadi sasaran layanan.

-           Azas kesukarelaan, adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik dalam menerima layanan.
Azas keterbukaan, Peserta didik diharapkan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura, baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya maupun dalam menerima berbagai macam informasi dan materi yang berguna bagi pengembangan dirinya.

-           Azas kegiatan, adanya partisipasi peserta didik secara aktif dalam penyelenggaraan layanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukkan baginya.

-           Azas kemandirian, peserta didik diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri dengan cirri-ciri mengenang dan dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mewujudkan dirinya sendiri

-           Azas kekinian, menghubungkan permasalahan yang telah berlalu dan masa depan dengan keadaan yang terjadi sekarang.

-           Azas kedinamisan, layanan yang diberikan terhadap peserta didik hendaknya bergerak maju, tidak monoton dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

-           Azas keterpaduan, adanya kordinasi dari guru maupun pihak lain yang saling menunjang, harmonis dan terpadu.

-           Azas normatif, segala bimbingan dan layanan yang diberikan tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang ada, seperti norma agama, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan kebiasaan yang berlaku. Akan teapi peserta didik diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya dalam memahami, menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut.

-           Azas keahlian, layanan yang dilakukan harus dilakukan secara profesionalisme sehingga dibutuhkan guru yang profesional.

-           Azas alih tangan, jika pemberi bimbingan sudah tidak mampu menangani (klien) nya maka harus dialih tangankan pada seseorang yang lebih ahli.

-           Azas tut wuri handayani, bimbingan dan layanan yang diberikan harus mampu mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, memberikan ransangan dan dorongan serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk lebih maju.

2. Layanan Orientasi

Layanan orientasi adalah layanan yang diberikan kepada siswa SD yang baru, dan jika perlu melalui orang tua siswa guna memberikan pemahaman dan memungkinkan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah yang baru dimasukinya. Hasil yang diharapkan dalam layanan orientasi adalah di permudah nya penyesuaian diri siswa terhadap pola kehidupan social, kegiatan belajardan kegiatan sekolah lain yang mendukung keberhasilan siswa. Fungsi utama bimbingan yang didukung oleh layanan orientasi ialah fungsi pemahaman dan pencegahan. Pelayanan ini dilakukan diawal masuk sekolah dan mencakup berbagai macam layanan yaitu:

-           Orientasi umum sekolah yang baru dimasuki

-           Orientasi kelas baru dan semester baru

-           Orientasi kelas terakhir, UAS dan UAN.

3. Layanan Informasi

Menurut Prayetno, ( 1997: 76) “Layanan informasi adalah layanan yang bertujuan membekali siswa dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan dan mengembangkan pola kehidupan anggota keluarga dan masyarakat”. Pemahaman yang diperoleh layanan informasi digunakan sebagai bahan acuan dalam meningkatkan kegiatan dan prestasi belajar, mengembangkan cita-cita menyelenggarakan hidup sehari-hari dan mengambil keputusan.

-           Materi umum layanan informasi meliputi:

-           Informasi pengembangan pribadi

-           Informasi kurikulum dan proses belajar mengajar

-           Informasi sekolah lanjutan

-           Informasi jabatan (awal/sederhana)

-           Informasi lingkungan (kehidupan keluarga, sosial kemasyarakatan, keberagaman, sosial budaya, dan lingkungan lainnya.

Pelayanan bimbingan orientasi dan imformasi dapat disampaikan dengan cara yang sama yaitu ceramah, tanya jawab dan diskusi dan dapat dilengkapi dengan peragaan, selebaran dan peninjauan ketempat tempat yang dimaksud seperti ruang kelas, perpustakaan, laboratorium dan lain-lain.

Secara yuridis keberadaan konselor dalam system pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator dan instruktur (UU No. 20/2003, pasal 1 ayat 6). Namun pengakuan secara eksplisit dan kesejajaran posisi antara kualifikasi tenaga pendidik satu dengan yang lainnya tidak menghilangkan arti bahwa setiap tenaga pendidik, termasuk konselor, memiliki konteks tugas, ekspektasi kinerja, dan setting pelayanan spesifik yang satu sama lain mengandung keunikan dan perbedaan. Oleh sebab itu, di dalam naskah ini konteks dan ekspektasi kinerja guru bimbingan dan konseling (yang di dalam naskah ini disebut konselor) mendapatkan penegasan kembali dengan maksud untuk meluruskan kembali konsep dan praktik bimbingan dan konseling ke arah yang tepat. Jika di dalam Permendiknas No. 23/2006 dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran bidang studi, maka kompetensi peserta didik yang harus dikembangkan melalui pelayanan bimbingan dan konseling adalah kompetensi kemandirian untuk mewujudkan diri (self actualization) dan pengembangan kapasitasnya (capacity development) yang dapat mendukung pencapaian kompetensi lulusan. Sebaliknya, kesuksesan peserta didik dalam mencapai SKL akan secara signifikan menunjang terwujudnya pengembangan kemandirian. Dalam hal ini kerjasama antara konselor dengan guru merupakan suatu keharusan.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s