Berjalan dan Berhenti

Renungan:

Seorang penyanyi terkenal. Suatu saat ketika didatangi dan diayu-ayukan oleh para  pengagumnya, berkata dengan nada pahit; Ketika aku masih   muda, saya berusaha keras  mendaki puncak karierku. Saat itu aku seperti   layaknya

seekor kuda yang sedang menempuh jalur perlombaan; tak ada   sesuatu yang
lain yang mampu menarik perhatiannya kecuali garis finish.

Melihatku yang sedemikian sibuk, nenekku memberikan nasihat; “Anakku,
jangan berjalan terlalu cepat.

Karena sepanjang jalanmu ada banyak
pemandangan menarik.”

Namun aku tak pernah mendengarkan kata-katanya. Dalam hatiku aku   berpikir, bila seseorang telah melihat secara jelas arah perjalanannya,   mengapa harus menyia-nyiakan waktu untuk sekedar berhenti sejenak? Dengan   pikiran yang demikian, aku terus berlari ke depan. Tahun silih berganti   dan saya memperoleh kedudukan, nama serta harta yang aku idam-idamkan   sejak lama.
Aku juga memiliki sebuah keluarga yang amat saya cintai. Namun aku tak
pernah merasa bahagia. Aku heran dan terus bertanya, di   manakah letak
kesalahannya sehingga aku tak bahagia?.

Setelah diam cukup lama, penyanyi itu melanjutkan, Suatu saat,   kelompok
musik kami ikut pentasan di luar daerah. Akulah penyanyi utamanya.   Setelah selesai pentasan, semua yang hadir bertepuk tangan   bersorak-sorai tanpa henti. Pentasan saat itu sangatlah berhasil. Namun saat orang   sedang
bersorak-sorai itulah aku dilanda kesedihan mendalam. Seseorang memberikan telegram kepadaku yang dikirim oleh isteriku.

Anak kami yang keempat baru saja dilahirkan. Setiap kali anak-anakku dilahirkan saya   selalu berada jauh dari isteriku, cuma dialah yang harus menanggung   beban penderitaan seorang diri. Aku tidak pernah melihat bagaimana   anak-anakku mulai membuat langkah pertama, belum pernah mendengar bagaimana   mereka tertawa atau menangis.

Aku hanya mendengar semuanya itu dari cerita ibunya.

Kata-kata nenekku kini terngiang lagi di telingaku…. Sungguh, aku telah kehilangan banyak teman, sudah lama aku tak pernah menyentuh buku-buku, dan serasa hampir seabad aku tak pernah menikmati indahnya   bunga yang sedang mekar di taman atau hijaunya pohon-pohon serta   merdunya kicau burung.

Aku terlampau sibuk!!!!!.

===========
Seorang bijak berkata; “Kita tak dapat hidup hanya dengan berpikir   tanpa
bekerja. Namun hidup ini menjadi amat tak berarti bila kita bekerja
seperti sebuah mesin yang bergerak tanpa henti.” Kita butuh waktu   luang
untuk menilai kembali masa silam, serta menentukan arah masa depan   yang
baru.

Ketika berjalan, kita mengarah ke suatu tujuan tertentu. Ketika   berhenti
kita memupuk tenaga baru untuk memulai perjanan baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s